Setelah menikah aku di boyong suami ke Jakarta.
Tidak pernah terbayangkan akan tinggal jauh dari orangtua.
Dalam kondisi hamil muda aku menempati rumah kontrakan kecil di gang yang ramai.
Sekali lagi tidak pernah ku sangka akan menempati rumah yang jendela kamarnya cuma satu dan yang satunya lagi tanpa jendela dan ventilasi udara.
Bagi ku memang agak kaget saja, tapi ku coba untuk menikmatinya.
Awal tinggal di Jakarta benar-benar membuat ku rindu akan suasana kota kelahiranku, Pekanbaru.
Pukul 3 pagi, gang depan rumahku sudah berisik dengan suara kaki orang lalu lalang.
"Hmmm, harusnya ini masih enak-enak tidur", batinku.
Namanya juga Jakarta, pagi-pagi orang sudah sibuk untuk beraktivitas, demikian juga suamiku.
Ia berangkat kerja setelah subuh menaiki bis. Pulang nya mendekati waktu Isya'
Sebagai ibu rumah tangga muda, saya melalui hari-hari sendirian.
Aku bukan tipe orang yang suka berkunjung ke tetangga tanpa ada alasan yang jelas hanya sekedar ngobrol ngalor-ngidul.
Ku isi hari-hari ku dengan membereskan pekerjaan rumah tangga, jika capek aku tidur.
Setelah kelahiran putri pertama ku, Zulfa, sudah tentu pekerjaanku bertambah sebagai ibu rumah tangga.
Orangtua ku tidak bisa mendampingi, karena ibu ku sakit diabetes.
Mertua pun hanya dua minggu, karena adik-adik masih sekolah, tidak ada yang mengurus mereka.
Aku benar-benar sendiri dalam mengurus bayiku Zulfa.
Memandikan, menyuci dan aktivitas lainnya.
Alhamdulillah, Zulfa tipe anak yang tidak rewel. Apabila di tinggal mandi atau mengerjakan sesuatu dia tetap tenang tidak menangis.
Belum memasuki usia 2 bulan bayiku pernah jatuh dari tempat tidur.
Mungkin karena kelalaian ku saking mengantuknya.
Banyak mitos yang disampaikan ketika memiliki bayi.
Ada yang menyuruh untuk membawa bawang putih, banglek dan sebagainya.
Karena menurut mereka bayi itu masih suci dan bisa melihat makhluk gaib.
Hiiii...seram amat yaaa.
Sebagai seorang muslimah aku hanya mendengarkan masukan dari para tetangga.
Bagiku pasrah kepada Yang Maha Kuasa lebih baik.
Meskipun terkadang bayiku rewel, aku berusaha menenangkannya dengan menyanyikan Shalawat Nabi
Selain itu kalimat tauhid Syahadat sering ku alunkan di kala menggendongnya
Ada pengalaman yang tak terlupakan bagi ku..
Ketika Zulfa di serang panas, oleh tetangga di saranin di beri kompres dengan alkohol dan di selimuti
Ternyata setelah aku bawa ke dokter, tindakan ku itu salah besar.
Sang dokter juga menanyakan bayiku di kasih minum ASI apa tidak.
Saat itu memang saya memberi ASI dan susu formula.
Dokter itu berkata,"pada masa Rasulullah saja belum ada susu formula, anak-anak bisa tumbuh sehat dan kuat".
Mendengar teguran dari dokter, perasaan ku menjadi kurang enak.
Memberi kesan aku seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki pendidikan.
Saran beliau aku disuruh untuk mencari bacaan, buku-buku tentang mengurus bayi.
Intinya menambah wawasan.
Semenjak kejadian tersebut, apapun yang menjadi masalah bagiku, aku mencari jawabannya dari buku-buku...
"Bacalah dengan (menyebut) Tuhanmu yang menciptakan" (QS. 95: 1)
selamat jadi ibu ya mak. salam knal
BalasHapus