Rabu, 28 Januari 2015

Kisahku...(1)

Semua orang pasti punya cita-cita jika setelah tamat kuliah ingin mendapatkan pekerjaan.
Begitupun dengan diriku, setelah menyelesaikan kuliah sibuk untuk mencari pekerjaan.  Tawaran untuk menjadi dosen sudah di dapatkan, tapi sayang keburu ada lamaran untuk menikah, sepertinya lebih ku prioritaskan.  Memang sebuah keputusan yang tidak mudah, ayahku pun sempat menyampaikan kegalauan nya karena aku memilih untuk menikah.  "Menurut ayah, bagaimana jika menikahnya nanti saja, cari pekerjaan dulu, ya...kenalan gitu aja lah dulu", ujar ayahku.  "Tidak ada istilah tunangan atau pacaran dalam Islam, Yah", jawabanku.  Dan saat itu aku juga berpikir sesuai dengan ilmu yang ku dapat selama ini dari mengikuti kegiatan rutin pengajian, dan buku-buku bernafaskan Islam yang ku baca, bahwa berdasarkan hadits Rasulullah SAW :

"Apabila kamu sekalian di datangi oleh seorang yang din dan akhlaknya kamu ridhai, maka kawinkanlah ia.  Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya, maka akan terjadilah fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan". (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini menjadi landasan kuat aku untuk tidak menunda-nunda pernikahan.  Mengapa??? Aku  takut jadi perawan tua...lho koq bisa!!!  Aku  tidak tahu apakah ada keterkaitan nya atau tidak tetapi dari cerita keluarga, teman dan orang-orang bahwa perempuan yang suka menolak jika di lamar laki-laki akan membuatnya susah jodoh di kemudian hari.  Hiiii...menakutkan!!! Dan selain  itu tidak ada alasan juga untuk menolak laki-laki ini, karena secara agama ia bagus.  Bagus dalam artian rajin shalat, mampu menjadi imam (ketika shalat berjama'ah  di kantor ibu, berdasarkan cerita ibu lho).  Ya, info ini ku dapatkan dari kedua orangtuaku.  Karena ayah dan ibu pernah se kantor dengan calon menantunya.  Aku sama sekali tidak mengenal laki-laki tersebut.

Bagiku kisah perjodohan antara diriku dan suamiku saat itu benar-benar sudah di atur oleh Allah SWT.  Ini menurutku setelah memutar kembali ke belakang perjalanan hidup yang di lalui selama ini. 

Sebelum kami di pertemukan oleh Yang Maha Kuasa,  sudah pernah menjadi bahan perbincangan antara ayah dan ibu  tentang sekumpulan anak muda yang tamatan dari sekolah tinggi kedinasan di Jakarta.  Menurut cerita yang ku dengar mereka ini "aneh", karena banyak hal yang menjadi kebiasaan umum di kantor tidak mau mereka ikuti.  Seperti pada acara upacara bendera, mereka tidak melakukan gerakan penghormatan kepada bendera merah putih. Mereka juga tidak suka  mengikuti acara senam dan lain sebagainya, ekslusif deh...Tetapi taat dalam beribadah, shalat tepat waktu dan membentuk kelompok  pengajian di kantor.  Saat itu ibu ku menyebutkan salah satu nama untuk menanyakan siapa  yang "aneh" ini. "Tidak" sahut ayahku, teman-temannya.   Dan nama yang di sebutkan itu akhirnya menjadi suamiku...

Skenario Allah itu memang luarbiasa, lalu aku diajak oleh sekumpulan anak muda "aneh" (menurut ayahku) untuk menghadiri pengajian rutin mereka.  Mereka dekat dengan ibu.  Sebelumnya mereka juga sempat ngobrol minta izin bertemu denganku, berkaitan aktivitas mengisi siraman rohani ke sekolah-sekolah menengah atas.  Saat itu aku memang diamanahi untuk  membimbing kegiatan rutin kerohanian bagian keputrian di salah satu sekolah.  Selain itu aku juga mecoba menitipkan tulisan yang berkaitan dengan Islam untuk diterbitkan di buletin pengajian kantor ibu.  Yang mengelolanya adalah calon suamiku dan seorang temannya, yang memang sangat akrab dengan keluarga kami.

Singkat cerita ternyata telah ada skenario lain dari salah satu temannya.  Mereka berniat menjodohkanku.   Mulai lah aksi perjodohan itu.  Di hubungi melalui  telepon dan di tanyain oleh seorang kakak (panggilan untuk perempuan)," Apakah aku sudah siap untuk menikah?", tanyanya.  Saat itu aku cuma menjawab," jika ditanya siap,  tidak tahu persiapan apa yang sudah aku lakukan.  Jika di jawab belum, aku juga tidak mengerti". Campur aduk perasaanku,  senang,  harus berteriak dan melompat-lompat kegirangan atau sedih. MENIKAH...duh...tidak terbayangkan. Aku baru lulus sarjana sebulan, bukannya lamaran kerja yang datang malah lamaran untuk menjadi istri.  Oh...

Segala informasi siapa calon suamiku di dapatkan melalui orangtua. Aku dan dia  hanya bertemu sekali, setelah itu segala urusan di serahkan ke temannya, yang sudah akrab dengan keluarga kami.  Benar-benar tidak di sangka ternyata orang yang pernah di sebutkan namanya dalam perbincangan ayah dan ibu dulu, akan menjadi calon menantu.  Tidak ada alasan untuk menolak karena selain orangtua sudah mengenal dan juga sudah memenuhi kriteria sebagai suami yakni memiliki penghasilan tetap dan taat beragama. 

Perjuangan untuk menuju ke jenjang pernikahan penuh cerita.  Tapi aku bersyukur orangtua tidak memberi penolakan atas semua acara prosesi pernikahan yang aku ajukan.  Mungkin mereka heran dan aneh, tapi demi kelancaran  acara dan  kebaikan anaknya, mereka  mengikuti saja.  Memang ada tantangan dari keluarga besar, namun karena ayah dan ibu memberi dukungan, akhirnya mereka hanya menuruti dengan penuh tanda tanya dalam hati...aliran apa ini, ilmu dari mana, dan seabreg pertanyaan yang membuat mereka heran, bingung ataupun ingin protes.  Aku tahu pasti mereka semua ingin menyaksikan seperti apa sih acara pernikahan yang Islami menurutku itu.

Mahar yang ku minta pun tidak seperti biasanya.  Aku hanya teringat pada hadits Rasulullah SAW ..."Sebaik-baik wanita ialah yang paling ringan mas kawinnya". (HR. Athabrani).  Aku hanya meminta terjemahan Al-qur'an.  Dan oleh pihak KUA ditanyain apakah ingin menjadi ustadzah nantinya, aku hanya tersenyum saja.  Umumnya yang dijadikan mahar adalah seperangkat alat shalat, perhiasan dan sebagainya.  Itupun ketika pada acara aqad nikah hanya dibungkus dengan amplop yang ada kop kantor tetapi oleh  calon suamiku  di balikin agar tidak kelihatan kopnya.

Lazimnya sebuah pernikahan, kedua mempelai disandingkan berdua.  Aku tidak.  Pengantin perempuan di ruang keluarga dan pengantin laki-laki di ruang tamu.  Kami terpisah. Dan tamu-tamu yang hadir  pun di beri pembatas.  Sungguh aneh memang acara pernikahan ku itu.  Tapi aku bersyukur acara tersebut dapat berjalan dengan lancar sesuai keyakinan yang aku pelajari. Tidak ada live organ tunggal, hanya alunan nasyid yang terdengar. Pelaminan pun di hias dengan latar kaligrafi.  Biasanya pelaminan di hiasi dengan warna-warni, pernak-pernik, dan bermacam-macam atribut, yang menurutku terkesan mubadzir dan tidak penting. 

Namun ada kisah sedih di hari gembira itu.  Nenekku yang sebenarnya sudah lama sakit, meninggal dunia pada sore harinya.  Suka dan duka yang terjadi dalam waktu yang bersamaan. Uwak (panggilanku pada nenek) sudah sakit sekitar sebulan. Dia hanya terbaring di kamar.  Setiap hari kami bergantian merawatnya. Ia mengetahui bahwa cucunya sudah dilamar, dan akan menikah.  Menurut salah satu kerabat yang menjenguknya, bahwa terucap dari mulut uwak bahwa dia menunggu acara pernikahanku, setelah itu dia akan "pergi".
---------------
"Tidakkah  engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi?  Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuz).  Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah." (QS. 22 : 70)

Senin, 12 Januari 2015

Move On Mom (1)



Secara umum, seorang ibu rumah tangga tidak dapat di lepaskan dari tugas-tugas kerumahtanggaan, misalnya mendidik, merawat dan membesarkan anak-anak.  Selain itu ia juga berperan penting dalam mengatur kebutuhan rumah tangga seperti mengelola pengeluaran dan pendapatan sehari-hari.  Di sela-sela kesibukan dan tugas rutinitasnya yang padat, beberapa ibu rumah tangga juga harus mengurus pembayaran rekening listrik, telepon, air dan antar jemput anak-anak dari dan ke sekolah.  Semua itu sangat melelahkan.  Kelelahan secara fisik ini dengan mudah memancing emosi para ibu rumah tangga.  Gampang marah, membentak, mengomel, berbicara kasar, mencubit  bahkan memukul.  


Seorang ibu rumah tangga tidak akan pernah lepas dari dua hal yang bersifat paradoks, yakni kesenangan dan kesedihan, senyum bahagia dan air mata duka.  Dalam konteks ini, ada dua hal yang perlu di pahami, yaitu cara pandang dan mengatasi rutinitas rumah tangga sehari-hari sebagai masalah.  Pertama cara pandang, jika seorang ibu melihat segala tugas di rumah adalah beban masalah dalam kehidupannya maka jiwanya tidak akan tenteram.  Sebaliknya, jika seorang ibu menganggap sebagai inspirasi atau guru yang baik dalam kehidupan, maka ia akan hidup tenteram dan damai.

Kedua, setelah memiliki perspektif atau cara pandang yang benar, seorang ibu harus menyikapi dengan tindakan.  Artinya, jika seorang ibu memahami rutinitas kesehariannya di rumah sebagai perkara positif, maka akan muncul semangat hidup.  Jiwa dan mental secara otomatis akan tumbuh semakin kuat dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul di rumah tangga.  

Menurut Roger Daniel dalam bukunya yang berjudul Teknik-teknik mengatasi emosi, bahwa emosi merupakan pengalaman rasa.   Seorang ibu merasakan adanya emosi, tidak sekedar memikirkannya.  Ketika ia mengatakan atau melakukan rutinitas pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, mengepel, mengurus anak-anak dan suami maka emosi nya merespon bahwa harus dilakukan dengan baik, tidak ada kendala.  Tanpa adanya tekanan kejiwaan, ia senang melakukan semua pekerjaan tersebut. 

Tetapi jika di saat ia mengerjakan tugas – tugas rumah tangganya terjadi kegaduhan misalnya suara anak yang menangis, rewel minta di suapin sama ibunya, mengajak bermain, bahkan bertengkar karena merebut mainan,  seorang ibu pasti  merespon untuk melakukan suatu tindakan.  Ia akan memarahi, mengomeli, membentak, serta memukul anak-anaknya.   

 Emosi dapat menjadi positif dan negatif.  Emosi yang positif secara personal menghasilkan perasaan yang menyenangkan.  Akan menimbulkan perasaan batin bahagia, tertawa, senang dan gembira.  Selalu bersikap optimis.  Sebaliknya emosi yang negatif menampakkan secara personal perasaan susah.  Sedih, murung, kecewa, marah, berkeluh-kesah dan menjadi pesimis.
 
Abu Hurairah Ra. berkata, seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw, “ Berilah aku nasihat.”  Beliau menjawab,” Jangan marah.”  Beliau mengulanginya beberapa kali,” Jangan marah!” (HR. Bukhari)