Selasa, 24 Februari 2015

Pengalaman pertama ku menjadi ibu

Setelah menikah aku di boyong suami ke Jakarta.
Tidak pernah terbayangkan akan tinggal jauh dari orangtua.
Dalam kondisi hamil muda aku menempati rumah kontrakan kecil di gang yang ramai.
Sekali lagi tidak pernah ku sangka akan menempati rumah yang jendela kamarnya cuma satu dan yang satunya lagi tanpa jendela dan ventilasi udara.
Bagi ku memang agak kaget saja, tapi ku coba untuk menikmatinya.
Awal tinggal di Jakarta benar-benar membuat ku rindu akan suasana kota kelahiranku, Pekanbaru.
Pukul 3 pagi, gang depan rumahku sudah berisik dengan suara kaki orang lalu lalang.
"Hmmm, harusnya ini masih enak-enak tidur", batinku.
Namanya juga Jakarta, pagi-pagi orang sudah sibuk untuk beraktivitas, demikian juga suamiku.
Ia berangkat kerja setelah subuh menaiki bis.  Pulang nya mendekati waktu Isya'
Sebagai ibu rumah tangga muda, saya melalui  hari-hari sendirian.  
Aku bukan tipe orang yang suka berkunjung ke tetangga tanpa ada alasan yang jelas hanya sekedar ngobrol ngalor-ngidul.
Ku isi hari-hari ku dengan membereskan pekerjaan rumah tangga, jika capek aku tidur.

Setelah kelahiran putri pertama ku, Zulfa, sudah tentu pekerjaanku bertambah sebagai ibu rumah tangga.
Orangtua ku tidak bisa mendampingi, karena ibu ku sakit diabetes.
Mertua pun hanya dua minggu, karena adik-adik masih sekolah, tidak ada yang mengurus mereka.
Aku benar-benar sendiri dalam mengurus bayiku Zulfa.
Memandikan, menyuci dan aktivitas lainnya. 
Alhamdulillah, Zulfa tipe anak yang tidak rewel.  Apabila di tinggal mandi atau mengerjakan sesuatu dia tetap tenang tidak menangis.
Belum memasuki usia 2 bulan bayiku pernah jatuh dari tempat tidur.
Mungkin karena kelalaian ku saking mengantuknya.
Banyak mitos yang disampaikan ketika memiliki bayi.
Ada yang menyuruh untuk membawa bawang putih, banglek dan sebagainya.
Karena menurut mereka bayi itu masih suci dan bisa melihat makhluk gaib.
Hiiii...seram amat yaaa.

Sebagai seorang muslimah aku hanya mendengarkan masukan dari para tetangga.
Bagiku pasrah kepada Yang Maha Kuasa lebih baik.
Meskipun terkadang bayiku rewel, aku berusaha menenangkannya dengan menyanyikan Shalawat Nabi
Selain itu kalimat tauhid Syahadat sering ku alunkan di kala menggendongnya

Ada pengalaman yang tak terlupakan bagi ku..
Ketika Zulfa di serang panas, oleh tetangga di saranin di beri kompres dengan alkohol dan di selimuti
Ternyata setelah aku bawa ke dokter, tindakan ku itu salah besar.
Sang dokter juga menanyakan bayiku di kasih minum ASI apa tidak.
Saat itu memang saya memberi ASI dan susu formula.
Dokter itu berkata,"pada masa Rasulullah saja belum ada susu formula, anak-anak bisa tumbuh sehat dan kuat".
Mendengar teguran dari dokter, perasaan ku menjadi kurang enak.
Memberi kesan aku seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki pendidikan.
Saran beliau aku disuruh untuk mencari bacaan, buku-buku tentang mengurus bayi.
Intinya menambah wawasan.
Semenjak kejadian tersebut, apapun yang menjadi masalah bagiku,  aku mencari jawabannya dari buku-buku...

"Bacalah dengan (menyebut) Tuhanmu yang menciptakan" (QS. 95: 1)


Sabtu, 21 Februari 2015

MOVE ON MOM (2)

        Secara umum, seorang ibu rumah tangga tidak dapat di lepaskan dari tugas-tugas kerumahtanggaan, misalnya mendidik, merawat dan membesarkan anak-anak.  Selain itu ia juga berperan penting dalam mengatur kebutuhan rumah tangga seperti mengelola pengeluaran dan pendapatan sehari-hari.  Di sela-sela kesibukan dan tugas rutinitasnya yang padat, beberapa ibu rumah tangga juga harus mengurus pembayaran rekening listrik, telepon, air dan antar jemput anak-anak dari dan ke sekolah.  Semua itu sangat melelahkan.  Kelelahan secara fisik ini dengan mudah memancing emosi para ibu rumah tangga.  Gampang marah, membentak, mengomel, berbicara kasar, mencubit  bahkan memukul. 

            Saya capek dengan tugas-tugas rumah tangga yang tidak ada putus-putusnya.  Dari bangun tidur sampai tidur lagi.  Memasak, menyiapkan sarapan, mengantar dan menjemput anak sekolah, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, menyapu, mengepel dan seabreg tugas-tugas rumah tangga yang tidak ada habisnya.  Apabila anak-anak pada rewel, nangis, dan  ketika mereka jatuh sakit…”aduh, puuuussssiiiinnngggg!”…Saking kesalnya karena pekerjaan belum selesai, sedangkan anak-anak membutuhkan perhatian, seringkali  marah, membentak, mengomel yang di lakukan.  Jika masih tidak mau diam juga, saya akan mencubit atau malah  memukul agar mereka diam.  Namun itu tidak merendam, malah mereka semakin menangis.  Dan saya pun menjadi stress sendiri.

            Selain itu penyebab kejengkelan yang lain adalah apabila suami tidak dapat berbagi tugas dalam mengurus rumah tangga.  Ia sibuk dengan urusannya sendiri.  Menonton tivi, membaca koran atau malah tidur-tiduran.  Situasi seperti ini membuat saya semakin kelelahan dan akhirnya marah, marah dan marah lagi.  Sepertinya tiada hari tanpa emosi.  Benar-benar batin saya tertekan.

            Di perburuk lagi dengan kehadiran kunjungan dari pihak keluarga suami, ibu mertua dan ipar-ipar.  Satu sisi saya dibantu dalam mengurusi anak-anak, karena sudah pasti  mereka dengan senang hati mendampingi anak-anak bermain, namun di sisi lain saya menjadi bekerja lebih banyak dalam hal memasak dan menyiapkan keperluan mereka.  Meskipun mereka adalah keluarga tetap membuat saya harus memberikan pelayanan yang terbaik.  Maklum, demi menarik hati sang mertua dan keluarga suami.  Ingin menunjukkan bahwa saya adalah menantu yang baik dan mampu mengurus rumah tangga dan suami.  Tapi, itu tidak mudah.  Ibu mertua seringkali menurut saya cerewet dan terkesan mengatur segala hal di dalam rumah tangga saya.  Beginilah, begitulah.  Masaknya kebanyakan lah, anaknya (maksudnya suami saya) senang makan ini itu…dan akhirnya menimbulkan kejengkelan dalam hatiku.  Huffsss…sambil menghela nafas, “cepat-cepatlah mereka pulang,” pikiran seperti itu terlintas di benak saya. (Kisah seorang ibu)

            Seorang ibu rumah tangga tidak akan pernah lepas dari dua hal yang bersifat paradoks, yakni kesenangan dan kesedihan, senyum bahagia dan air mata duka.  Dalam konteks ini, ada dua hal yang perlu di pahami, yaitu cara pandang dan mengatasi rutinitas rumah tangga sehari-hari sebagai masalah.  Pertama cara pandang, jika seorang ibu melihat segala tugas di rumah adalah beban masalah dalam kehidupannya maka jiwanya tidak akan tenteram.  Sebaliknya, jika seorang ibu menganggap sebagai inspirasi atau guru yang baik dalam kehidupan, maka ia akan hidup tenteram dan damai.

            Kedua, setelah memiliki perspektif atau cara pandang yang benar, seorang ibu harus menyikapi dengan tindakan.  Artinya, jika seorang ibu memahami rutinitas kesehariannya di rumah sebagai perkara positif, maka akan muncul semangat hidup.  Jiwa dan mental secara otomatis akan tumbuh semakin kuat dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul di rumah tangga.

            Menurut Roger Daniel dalam bukunya yang berjudul Teknik-teknik mengatasi emosi, bahwa emosi merupakan pengalaman rasa.   Seorang ibu merasakan adanya emosi, tidak sekedar memikirkannya.  Ketika ia mengatakan atau melakukan rutinitas pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, mengepel, mengurus anak-anak dan suami maka emosi nya merespon bahwa harus dilakukan dengan baik, tidak ada kendala.  Tanpa adanya tekanan kejiwaan, ia senang melakukan semua pekerjaan tersebut. 

Tetapi jika di saat ia mengerjakan tugas – tugas rumah tangganya terjadi kegaduhan misalnya suara anak yang menangis, rewel minta di suapin sama ibunya, mengajak bermain, bahkan bertengkar karena merebut mainan,  seorang ibu pasti  merespon untuk melakukan suatu tindakan.  Ia akan memarahi, mengomeli, membentak, serta memukul anak-anaknya.  
Emosi dapat menjadi positif dan negatif.  Emosi yang positif secara personal menghasilkan perasaan yang menyenangkan.  Akan menimbulkan perasaan batin bahagia, tertawa, senang dan gembira.  Selalu bersikap optimis.  Sebaliknya emosi yang negatif menampakkan secara personal perasaan susah.  Sedih, murung, kecewa, marah, berkeluh-kesah dan menjadi pesimis.

Abu Hurairah Ra. berkata, seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw, “ Berilah aku nasihat.”  Beliau menjawab,” Jangan marah.”  Beliau mengulanginya beberapa kali,” Jangan marah!” (HR. Bukhari)

Marah...
itu yang ingin di lakukan...
menumpahkan segala sesak didada...

Marah...
Marah...
Marah....

tapi ternyata...
Rasulullah bersabda..."Jangan Marah, Jangan Marah..."

adalah sebuah kemenangan yang luar biasa, ketika bisa menahan marah...
meskipun tidak mudah...marilah belajar menahan marah...

latihlah lidah dan hati untuk berdzikir...
untuk mereda kemarahan....

Subhanallah, Walhamdulillah, Wa la'illaha illallah... Wallahu'akbar...