Jumat, 27 Maret 2015

Aku bukanlah ibu yang sempurna

Sebagai seorang perempuan yang  menikah dan memperoleh  anak adalah sebuah kebahagiaan. Tapi kemudian menjadi repot dengan kegiatan rumah, anak-anak, dan mengurus suami, berusaha di nikmati  saja meski pun terkadang sering menjadi galau...hehehe..
Iya..galau..koq kerjanya dapur, sumur, kasur..???
Terkadang muncul  perasaan iri melihat teman-teman yang kerja kantoran...Namun seiring perjalanan waktu, aku merasa syukur karena anak-anak lebih dekat kepada umminya dalam berbagai hal, meskipun sebenarnya aku seringkali galak.

Ada sebuah kisah yang membuatku tersenyum.  Di kisahkan oleh anak lelaki ku yang bernama Iqbal.
Suatu hari teman-temannya pada main ngumpul-ngumpul di rumah.
Salah satu teman yang perempuan bertanya," mama mu galak ya?". Lalu di jawab anakku," gak, ummi ku gak galak".
Setelah teman-teman sekolahnya  pulang,  dia menghampiri ku dan bercerita bahwa ada salah seorang  teman dia, mengatakan aku galak..
Aku tertawa dan balik bertanya," menurut kamu bagaimana mas?". Dia menjawab," ummi tidak galak". "Ah, masa..tapikan ummi suka marah kepada kamu?". Dia terdiam sambil berpikir. Aku membantu menjawab," menurut mu ummi marah ada sebabnya ya?". Dia pun mengangguk dan berkata," iya, kan memberitahu mana  yang baik dan benar".

Subhanallah...padahal aku selalu merasa berdosa kepada mereka karena seringkali ngomel, cerewet kepada mereka...
Sebagai ibu,  diri ku  bukanlah ibu yang sempurna bagi anak-anak.
Bukan berarti aku merasa  gagal menjadi ibu bagi  mereka,  tetapi lebih kepada ideal nya seorang ibu menurut pandanganku.
Aku bukanlah ibu yang melahirkan generasi hafidz dan hafidzoh, seperti teman-teman ku. Mereka bangga  menceritakan bahwa anak-anaknya sudah hafal sekian juz. Sedangkan anak-anakku adalah anak yang biasa saja, tidak memiliki prestasi dalam hafalan Al-quran. Namun demikian, Alhamdulillah untuk pelajaran agama mereka mampu menerima dengan baik.  Meskipun tidak sebanyak anak-anak temanku  tetapi anak-anak ku memiliki beberapa hafalan.
Mungkin sebagian teman-temanku mengharamkan televisi, sosial media, dan sebagainya..
Malah anak-anakku akrab dengan itu semua..tapi sebagai ibu aku benar- benar keras kepada mereka...
Kekhawatiran terhadap hal-hal negatif dampak dari media tersebut menghantui pemikiran ku  juga.
Tapi aku seringkali menyampaikan ke mereka tentang kekhawatiranku, Alhamdulillah mereka merespon dengan baik.

Bagi ku menghadapi anak-anak adalah :

1. Jadilah diri sendiri..jika belum mampu mendidik anak menjadi seorang 
    hafidz atau hafidzoh, do'akan semoga mereka di beri kemudahan
2. Didiklah  seperti main layang-layang.
    Kadang kita ulur, kadang kita tarik.
3. Selalu berusaha memperbaiki karena tidak ada manusia yang sempurna 
    begitu juga dengan anak, marahlah  sepantasnya saja.
4. Beri lingkungan positif dalam rumah
5. Jika ada konflik antara ibu ayah tidak melibatkan anak- anak..
6. Meskipun sedang ada masalah dalam rumah tangga berusaha menahan diri
    di depan mereka
7. Kemauan kuat untuk menjadi orangtua yang ramah dan peduli kepada 
    mereka
8. Didiklah sesuai umur mereka
(di sarikan dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar