Secara umum, seorang ibu rumah
tangga tidak dapat di lepaskan dari tugas-tugas kerumahtanggaan, misalnya
mendidik, merawat dan membesarkan anak-anak.
Selain itu ia juga berperan penting dalam mengatur kebutuhan rumah
tangga seperti mengelola pengeluaran dan pendapatan sehari-hari. Di sela-sela kesibukan dan tugas rutinitasnya
yang padat, beberapa ibu rumah tangga juga harus mengurus pembayaran rekening
listrik, telepon, air dan antar jemput anak-anak dari dan ke sekolah. Semua itu sangat melelahkan. Kelelahan secara fisik ini dengan mudah
memancing emosi para ibu rumah tangga.
Gampang marah, membentak, mengomel, berbicara kasar, mencubit bahkan memukul.
Saya capek
dengan tugas-tugas rumah tangga yang tidak ada putus-putusnya. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Memasak, menyiapkan sarapan, mengantar dan
menjemput anak sekolah, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, menyapu,
mengepel dan seabreg tugas-tugas rumah tangga yang tidak ada
habisnya. Apabila anak-anak pada rewel,
nangis, dan ketika mereka jatuh
sakit…”aduh, puuuussssiiiinnngggg!”…Saking kesalnya karena pekerjaan belum
selesai, sedangkan anak-anak membutuhkan perhatian, seringkali marah, membentak, mengomel yang di
lakukan. Jika masih tidak mau diam juga,
saya akan mencubit atau malah memukul
agar mereka diam. Namun itu tidak
merendam, malah mereka semakin menangis.
Dan saya pun menjadi stress sendiri.
Selain itu
penyebab kejengkelan yang lain adalah apabila suami tidak dapat berbagi tugas
dalam mengurus rumah tangga. Ia sibuk
dengan urusannya sendiri. Menonton tivi,
membaca koran atau malah tidur-tiduran.
Situasi seperti ini membuat saya semakin kelelahan dan akhirnya marah,
marah dan marah lagi. Sepertinya tiada
hari tanpa emosi. Benar-benar batin saya
tertekan.
Di perburuk lagi
dengan kehadiran kunjungan dari pihak keluarga suami, ibu mertua dan
ipar-ipar. Satu sisi saya dibantu dalam
mengurusi anak-anak, karena sudah pasti mereka dengan senang hati mendampingi
anak-anak bermain, namun di sisi lain saya menjadi bekerja lebih banyak dalam
hal memasak dan menyiapkan keperluan mereka.
Meskipun mereka adalah keluarga tetap membuat saya harus memberikan
pelayanan yang terbaik. Maklum, demi
menarik hati sang mertua dan keluarga suami.
Ingin menunjukkan bahwa saya adalah menantu yang baik dan mampu mengurus
rumah tangga dan suami. Tapi, itu tidak
mudah. Ibu mertua seringkali menurut
saya cerewet dan terkesan mengatur segala hal di dalam rumah tangga saya. Beginilah, begitulah. Masaknya kebanyakan lah, anaknya (maksudnya
suami saya) senang makan ini itu…dan akhirnya menimbulkan kejengkelan dalam
hatiku. Huffsss…sambil menghela nafas,
“cepat-cepatlah mereka pulang,” pikiran seperti itu terlintas di benak saya.
(Kisah seorang ibu)
Seorang ibu rumah
tangga tidak akan pernah lepas dari dua hal yang bersifat paradoks, yakni kesenangan
dan kesedihan, senyum bahagia dan air mata duka. Dalam konteks ini, ada dua hal yang perlu di
pahami, yaitu cara pandang dan mengatasi rutinitas rumah tangga sehari-hari
sebagai masalah. Pertama cara pandang,
jika seorang ibu melihat segala tugas di rumah adalah beban masalah dalam
kehidupannya maka jiwanya tidak akan tenteram.
Sebaliknya, jika seorang ibu menganggap sebagai inspirasi atau guru yang
baik dalam kehidupan, maka ia akan hidup tenteram dan damai.
Kedua, setelah
memiliki perspektif atau cara pandang yang benar, seorang ibu harus menyikapi
dengan tindakan. Artinya, jika seorang ibu
memahami rutinitas kesehariannya di rumah sebagai perkara positif, maka akan
muncul semangat hidup. Jiwa dan mental
secara otomatis akan tumbuh semakin kuat dalam menghadapi masalah-masalah yang
timbul di rumah tangga.
Menurut Roger
Daniel dalam bukunya yang berjudul Teknik-teknik mengatasi emosi, bahwa emosi
merupakan pengalaman rasa. Seorang ibu
merasakan adanya emosi, tidak sekedar memikirkannya. Ketika ia mengatakan atau melakukan rutinitas
pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, mengepel, mengurus anak-anak dan
suami maka emosi nya merespon bahwa harus dilakukan dengan baik, tidak ada kendala. Tanpa adanya tekanan kejiwaan, ia senang
melakukan semua pekerjaan tersebut.
Tetapi jika di saat ia mengerjakan tugas – tugas rumah tangganya
terjadi kegaduhan misalnya suara anak yang menangis, rewel minta di suapin sama
ibunya, mengajak bermain, bahkan bertengkar karena merebut mainan, seorang ibu pasti merespon untuk melakukan suatu tindakan. Ia akan memarahi, mengomeli, membentak, serta
memukul anak-anaknya.
Emosi dapat menjadi positif dan negatif. Emosi yang positif secara personal menghasilkan
perasaan yang menyenangkan. Akan
menimbulkan perasaan batin bahagia, tertawa, senang dan gembira. Selalu bersikap optimis. Sebaliknya emosi yang negatif menampakkan
secara personal perasaan susah. Sedih,
murung, kecewa, marah, berkeluh-kesah dan menjadi pesimis.
Abu Hurairah Ra. berkata, seorang laki-laki berkata kepada Nabi
Saw, “ Berilah aku nasihat.” Beliau
menjawab,” Jangan marah.” Beliau
mengulanginya beberapa kali,” Jangan marah!” (HR. Bukhari)
Marah...
itu yang ingin di lakukan...
menumpahkan segala sesak didada...
Marah...
Marah...
Marah....
tapi ternyata...
Rasulullah bersabda..."Jangan Marah, Jangan Marah..."
adalah sebuah kemenangan yang luar biasa, ketika bisa menahan marah...
meskipun tidak mudah...marilah belajar menahan marah...
latihlah lidah dan hati untuk berdzikir...
untuk mereda kemarahan....
Allah subhanallah walhamdulillah, bener sekali mak
BalasHapus