Ibu
adalah sebuah sekolah. Ungkapan ini sangat indah untuk menerangkan betapa
pentingnya peran seorang ibu. Itu sebabnya Rasulullah menyebutkan tiga kali keutamaan berbakti kepada ibu
sebelum kepada ayah. Karena perannya itu ia seringkali berhadapan dengan
masalah-masalah yang di sebabkan oleh faktor hormonal maupun eksternal.
Memang,
tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Hidup hanyalah perpindahan dari satu
masalah ke masalah lain. Besar atau
kecil, rumit atau sederhana, masalah akan selalu ada. Dan pada setiap masalah,
seorang ibu hanyalah satu dari model-model orang-orang berikut ini, yakni pertama, orang yang kalah oleh masalah.
Berantakan, bahkan bisa berubah menjadi kacau. Kedua, orang yang lari dari masalah, dengan harapan menjauhi. Tetapi pada dasarnya ia juga akan menemukan
masalah baru. Ketiga, orang yang senangnya mencari masalah. Biasanya model ini lebih karena arogansi atau
egoisme.
Keempat, orang yang bila masalah datang, ia bisa menjadi
penyelesai. Baik itu masalah yang
dihadapi orang lain, terlebih masalah yang di hadapi dirinya sendiri.
Jadi
seorang ibu harus memiliki kemampuan
mengendalikan diri, berpikir positif agar tidak mengalami kegoncangan jiwa dan
kehancuran. Karena ia berfungsi sebagai
pendidik utama yang tak tergantikan oleh siapapun.
Sungguh
tidak mudah menjalani peran sebagai ibu.
Apalagi di masa sekarang yang sarat dengan dinamika perubahan. Ia di tuntut untuk terus belajar
menyelaraskan wawasannya dengan perkembangan zaman. Tanpa melupakan tugas-tugas utamanya dalam
rumah tangga demi kebahagiaan suami dan anak-anak.
Namun,
sebagai sebuah “sekolah” yang 24 jam, seorang
ibu sangat rentan dengan tekanan kejiwaan. Rutinitas para ibu rumah tangga
cenderung monoton, dengan tingkat apresiasi yang minim. Jika tidak di barengi dengan keterampilan
menghargai diri sendiri dengan baik ternyata akan memicu stress.
Tekanan
kejiwaan merupakan sebuah gejala normal
yang dialami oleh seseorang. Itu bisa berupa emosi, trauma, ataupun depresi. Kondisi ini berdampak buruk bagi sebuah
“sekolah” jika terus - menerus mengalami stress dalam kesehariannya. Bahkan tidak jarang berdampak buruk terhadap
keluarganya seperti bertengkar.
Akibatnya
seorang ibu tidak bahagia. Ia selalu di
selimuti perasaan merasa gagal, takut, mudah depresi, tertekan, bosan dan
gelisah.
Masalah yang sering menyebabkan seorang ibu rumah tangga mengalami emosi adalah
1.
Pekerjaan dan Perilaku sang suami
Pernikahan
adalah ikatan janji kuat nan suci yang di simpulkan dua insan berlawanan jenis
sehingga melahirkan keturunan. Karena
perbedaan sifa dan perilaku laki-laki dan perempuan seringkali menyebabkan
timbulnya perselisihan dan pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga.
Masalah
rumah tangga itu bisa bersumber dari mana saja, bisa suami, istri bahkan pihak
ketiga. Karena itu, ketika rumah tangga
diterpa masalah, suami istri dituntut untuk bisa menyelesaikannya demi
kebahagiaan rumah tangga.
2.
Ekonomi
keluarga
Sebagai ibu rumah tangga, secara
otomatis kondisi keuangan keluarga tergantung sepenuhnya kepada suami. Hanya saja, terlalu sering “meminta” uang
kepada pasangan terkadang bisa mengganggu ego dan harga diri istri. Karena
keseringan “meminta” uang seringkali di tolak oleh suami. Membuat seorang ibu merasa sangat emosi dan
frustasi. Dapat juga memicu pertengkaran
3.
Mertua
dan ipar
Tanpa di sadari, seorang ibu bisa merasa
gagal, kecewa dan tertekan jika berhadapan dengan mertua dan ipar. Karena secara tak langsung ia dan suami harus
ikut terlibat dalam masalah mereka atau mereka yang mencampuri urusan rumah
tangga. Sulitnya, apabila suami atau
istri lebih memihak kepada keluarganya.
Dan seringkali menimbulkan percekcokan dan membuat seorang ibu merasa
frustasi.
4.
Lingkungan
sosial
Ibu rumah tangga hanya sibuk dengan urusan rumahnya
saja. Karena rutinitas domestiknya
tersebut seringkali ia tidak sempat untuk bergaul dan menambah wawasannya. Ia
tidak memiliki teman untuk sekedar berbagi pengalaman dan menumpahkan perasaan karena kelelahannya dengan segala aktivitas rumah
tangga. Akibatnya seorang ibu hanya menyimpan
dan memikirkan sendiri masalahnya. Ini akan berdampak pada kesehatanya sendiri. Menimbulkan stress dan depresi.
wow blog mbak Menik udah keren nih, postingannya juga udah komplit :) Slam kenal ya mbak :)
BalasHapus