Jumat, 26 Desember 2014

DESPRETE HOUSEWIFE





Ibu adalah sebuah sekolah. Ungkapan ini sangat indah untuk menerangkan betapa pentingnya peran seorang ibu. Itu sebabnya Rasulullah menyebutkan  tiga kali keutamaan berbakti kepada ibu sebelum kepada ayah. Karena perannya itu ia seringkali berhadapan dengan masalah-masalah yang di sebabkan oleh faktor hormonal maupun  eksternal.
Memang, tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Hidup hanyalah perpindahan dari satu masalah ke masalah lain.  Besar atau kecil, rumit atau sederhana, masalah akan selalu ada. Dan pada setiap masalah, seorang ibu hanyalah satu dari model-model orang-orang berikut ini, yakni pertama, orang yang kalah oleh masalah. Berantakan, bahkan bisa berubah menjadi kacau. Kedua, orang yang lari dari masalah, dengan harapan menjauhi.  Tetapi pada dasarnya ia juga akan menemukan masalah baru.  Ketiga, orang yang senangnya mencari masalah.  Biasanya model ini lebih karena arogansi atau egoisme.  Keempat, orang yang bila masalah datang, ia bisa menjadi penyelesai.  Baik itu masalah yang dihadapi orang lain, terlebih masalah yang di hadapi dirinya sendiri.
Jadi seorang ibu  harus memiliki kemampuan mengendalikan diri, berpikir positif agar tidak mengalami kegoncangan jiwa dan kehancuran.  Karena ia berfungsi sebagai pendidik utama yang tak tergantikan oleh siapapun.

Sungguh tidak mudah menjalani peran sebagai ibu.  Apalagi di masa sekarang yang sarat dengan dinamika perubahan.  Ia di tuntut untuk terus belajar menyelaraskan wawasannya dengan perkembangan zaman.  Tanpa melupakan tugas-tugas utamanya dalam rumah tangga   demi kebahagiaan suami dan anak-anak.
Namun, sebagai sebuah “sekolah” yang 24 jam,  seorang ibu sangat rentan dengan tekanan kejiwaan. Rutinitas para ibu rumah tangga cenderung monoton, dengan tingkat apresiasi yang minim.  Jika tidak di barengi dengan keterampilan menghargai diri sendiri dengan baik ternyata akan memicu stress.
Tekanan kejiwaan  merupakan sebuah gejala normal yang dialami oleh seseorang. Itu bisa berupa emosi, trauma, ataupun depresi.  Kondisi ini berdampak buruk bagi sebuah “sekolah” jika terus - menerus mengalami stress dalam kesehariannya.  Bahkan tidak jarang berdampak buruk terhadap keluarganya seperti bertengkar.
Akibatnya seorang ibu tidak bahagia.  Ia selalu di selimuti perasaan merasa gagal, takut, mudah depresi, tertekan, bosan dan gelisah. 


Masalah yang sering menyebabkan seorang ibu rumah tangga mengalami emosi adalah
 
1.      Pekerjaan  dan Perilaku sang suami
Pernikahan adalah ikatan janji kuat nan suci yang di simpulkan dua insan berlawanan jenis sehingga melahirkan keturunan.  Karena perbedaan sifa dan perilaku laki-laki dan perempuan seringkali menyebabkan timbulnya perselisihan dan pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga.
Masalah rumah tangga itu bisa bersumber dari mana saja, bisa suami, istri bahkan pihak ketiga.  Karena itu, ketika rumah tangga diterpa masalah, suami istri dituntut untuk bisa menyelesaikannya demi kebahagiaan rumah tangga.
2.      Ekonomi keluarga
Sebagai ibu rumah tangga, secara otomatis kondisi keuangan keluarga tergantung sepenuhnya kepada suami.  Hanya saja, terlalu sering “meminta” uang kepada pasangan terkadang bisa mengganggu ego dan harga diri istri. Karena keseringan “meminta” uang seringkali di tolak oleh suami.  Membuat seorang ibu merasa sangat emosi dan frustasi.  Dapat juga memicu pertengkaran
3.      Mertua dan ipar
Tanpa di sadari, seorang ibu bisa merasa gagal, kecewa dan tertekan jika berhadapan dengan mertua dan ipar.  Karena secara tak langsung ia dan suami harus ikut terlibat dalam masalah mereka atau mereka yang mencampuri urusan rumah tangga.  Sulitnya, apabila suami atau istri lebih memihak kepada keluarganya.  Dan seringkali menimbulkan percekcokan dan membuat seorang ibu merasa frustasi.
4.      Lingkungan sosial
Ibu rumah tangga hanya sibuk dengan urusan rumahnya saja.  Karena rutinitas domestiknya tersebut seringkali ia tidak sempat untuk bergaul dan menambah wawasannya. Ia tidak memiliki teman untuk sekedar berbagi pengalaman dan  menumpahkan perasaan karena  kelelahannya dengan segala aktivitas rumah tangga. Akibatnya  seorang ibu hanya menyimpan dan memikirkan sendiri masalahnya. Ini akan berdampak pada  kesehatanya sendiri.  Menimbulkan stress dan depresi.

1 komentar:

  1. wow blog mbak Menik udah keren nih, postingannya juga udah komplit :) Slam kenal ya mbak :)

    BalasHapus